BAB I
PENDAHULUAN
A.1. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sosial kita tidak akan
lepas dari dari ketiga unsur ini, yaitu tentang tamu, tetangga dan mengasihi
para dhuafa. Maka dengan tiga masalah ini, kami sedikit menguraikan bagaimana
cara kita untuk mengabdikan diri kepada sang Khalik dengan cara, menghormati,
mengasihi, menyayangi, mengutamakan mereka, agar supaya pengabdian ini
benar-benar diterima di sisiNya. Karena dalam suatu hadist di sebutkan “Barang siapa
yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya.” (HR. Bukhari), “Barang siapa beriman kepada Allah dan
hari akhir, maka hendaknya tidak menyakiti tetangganya” Dalam hadist
lagi diterangkan, Seorang bertanya kepada Nabi Saw, “Islam yang
bagaimana yang baik?” Nabi Saw menjawab, “Membagi makanan (kepada fakir-miskin)
dan memberi salam kepada yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya.” (HR.
Bukhari), dan lagi Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta
kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka
seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim). Dengan latar belakang tersebut kami disini menyuguhkan
tentang bagaimana cara menggapai ketiga masalah tersebut, sehingga atas
dorongan Dosen terwujudlah apa yang ada di tangan anda ini, semoga ada manfaat
dan gunanya.
A.2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah materi dalam
makalah ini diarahkan pada Pembahasan Cara menghormati dan memuliakan tamu,
tetangga dan dhu’afa dan pengertian secara tekstual maupun kontekstual, sehingga
pemahaman nanti tidak monoton. Dan juga kami uraikan istimbat hukum dalam
setiap pembahasan dan di sertai pendapat para ulama yang mana semua nanti insya
allah akan kami bahas.
A.3. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan makalah ini untuk
memahami pentingnya menghormati dan memuliakan tamu, tetangga dan dhu’afa sera
kewajiban kita sebagai pemeluk Agama islam. Sehingga pembahasan ini nanti bisa
bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi masyarakat. Karena perbuatan yang
baik atau terpuji atau tercela terhadap Allah SWT dinamakan hubungan vertical, sedangkan perbuatan yang berhubungan
dengan perkara yang terpuji atau tercela terhadap sesama manusia atau alam
sekitar dinamakan hubungan horizontal.
Yang mana tujuan utama nanti untuk membentuk manusia seutuhnya.semoga makalah
ini adamanfaat dan barakahnya.
MENGHORMATI
TAMU DAN TETANGGA
SERTA
MENYANTUNI KAUM DHU’AFA
A. Pembahasan
1. MEMULIAKAN TAMU DAN MENGUTAMAKANNYA.
a. Hadist yang menerangkan
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلَى
رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقَالَ إِنِّى مَجْهُوْدٌ، فَاَرْسَلَ
اِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ فَقَالَتْ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِى اِلاَّ
مَاءٌ ثُمَّ اَرْسَلَ اِلىَ اُخْرَى فَقَالَتَ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى قُلْنَ كُلُّهُنَّ
مِثْلَ ذَلِكَ لاَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِى اِلاَّ مَاءٌ فَقَالَ
مَنْ يُضِيْفُ هَذَا اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللهُ ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلاَنْصَارِ
فَقَالَ : اَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ فَانْطَلَقَ بِهِ اِلىَ رَحْلِهِ فَقَالَ ِلإِ
مْرَأَتِهِ هَلْ عِنْدَكِ شَىْءٌ قَالَتْ : لاَ اِلاَّ قُوْتَ صِبْيَانىِ قَالَ فَعَلِّلِيْهِمْ
بِشَىْءٍ فَاِذَا دَخَلَ ضَيْفُنَا فَأَطْفِئِ السِّرَاجَ وَاَرِيْهِ اَنَا نَأْكُلُ
فَأِذَا اَهْوَى لِيَأْكُلَ فَقُوْمِىْ اِلَى السِّرَاجِ حَتَّى تُطْفِئِيْهِ قَالَ
فَقَعَدُوا وَاَكَلَ الضَّيْفُ فَلَمَّا اَصْبَحَ غَذًا عَلَى الَّنبِيِّ صَلَى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : قَدْ عَجِبَ اللهُ مِنْ صَنِيْعِكُمَا بِضَيْفِكُمَا
اللَّيْلَةَ.
Dari abu Hurairah ra katanya: seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Lalu dia berkata. “aku dalam kesulitan
(susah hidup dan lapar).” Maka beliau bawa orang itu kerumah istri beliau satu
persatu, menanyakan kalau-kalau mereka ada sedia makanan. Para
istri beliau menjawab “demi Allah yang mengutus Anda dengan yang haq, aku tidak
sedia apa-apa selain air.”begitulah jawaban mereka masing-masing. Lalu bersabda
beliau kepada para sahabat. “siapa besedia menerima tamu malam ini niscaya dia
diberi rahmat oleh Allah ta’ala. Maka berdirilah seorang laki-laki Anshor
seraya berkata: Aku ya Rasulullah!” maka dibawalah orang itu
kerumahnya.diabertanya kepada istrinya, “adakah engkau sedia makanan? “jawab
istrinya, tidak ada kecuali makanan anak-anak.” Katanya “bujuklah mereka dengan
apa saja. Bila tamu kita telah masuk. Tunjukkan kepadanya bahwa kita makan
bersamanya, bila dia telah mulai makan, berdirilah kedekat lampu lalu padamkan.
Maka duduklah mereka, dan sang tamupun makanlah. Setelah subuh. Sahabat
tersebut bertemu nabi saw. Lalu kata beliau. “Allah kagum dengan cara kamu berdua melayani tamu kalian tadi
malam. HR. Bukhori 1966.
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلُّ كَبِيْرَنَا
فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa yang tidak
mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua
dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad).
b. Pemahaman secara Tekstual
Dalam hadis
dijelaskan bahwa Nabi memerintahkan menghormati dan menjamu tamu, serta
mengasihi golongan yang lebih kecil.
c. Pemahaman secara Kontekstual
Apa saja yang
kamu miliki maka berikanlah untuk menghormati tamu, walaupun itu sangat
merugikan kamu sendiri. Dan hormatilah orang-orang yang ada di sekeliling kamu
baik yang sudah tua maupun yang masih muda.
d. Istimbat Hukum
Bagi seorang
yang tamu atau yang ditamui, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada
udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Untuk menghadiri undangan maka hendaknya
memperhatikan syarat-syarat berikut:
a.
Orang yang mengundang bukan orang yang
harus dihindari dan dijauhi.
b.
Tidak ada kemungkaran pada tempat
undangan tersebut.
c.
Orang yang mengundang adalah muslim.
d.
Penghasilan orang yang mengundang bukan
dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh
menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang
yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
e.
Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu
ketika menghadiri undangan tersebut.
f.
Tidak ada mudharat bagi orang yang
menghadiri undangan.
g. Tamu adalah anugerah karena
tamu membawa berkah tersendiri, sehingga dalam islam ditegaskan melalui
Al-Quran maupun Al-Hadist secara panjang lebar, entah tamu tersebut bertujuan
baik maupun jelek, maka menurut hemat kami hormatilah semua tamu yang datang
kerumahmu, karena itu, kita harus selalu Menghormati tamu dan
menyediakan hidangan untuk tamu tersebut untuk memberikan makanan semampunya
saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang
terbaik. Allah ta’ala berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam bersama tamu-tamunya yang diterangkan dalam Al-Quran: “Dan
Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian
ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-pen) sambil
berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27), maka posisi
tamu disini sangat penting untuk diperhatikan, di hormati dan di layani
sebaik-baik mungkin.
h.
Disunahkan mengucapkan selamat datang
kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,“Selamat datang kepada para utusan
yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari-Muslim)
i.
Mendahulukan tamu yang sebelah kanan
daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan
tertib.
Adapun
tatacara bertamu dan menerima tamu sebagai berikut:
1.
Adab bertamu
a. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama
muslim.
b. Ucapkanlah salam kepada orang yang ditamui
c. Tersenyumlah, karena tersenyum adalah ibadah
d. Jagalah tingkah laku dan gunakan akhlak yang terpuji
e. Berbuatlah yang tidak bertentangan dengan syariat
f.
Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu
juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah
menghendaki tinggal bersama mereka.
2.
Adab menerima tamu
a. Berniatlah menerima tamu Allah
b. Jawablah salam orang yang
bertamu tersebut
c. Hormatilah semampunya dan
jangan berlebih-lebihan
d. Ajaklah bicara dengan sopan
dan santun
e. Persilahkan pulang atau
menginap
f.
Mengantarkan pulang sampai pintu pagar
Dari pemaparan diatas bahwa Tamu adalah raja maka
hormatilah tamu tersebut dengan sekuat tenagamu, dan menghormati tamu itu
hukumnya wajib.
e. Pendapat Para Ulama
a. Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang
shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari
mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.
b.
Pengarang kitab Al Ifshah
mengatakan : “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa
menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya,
apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu
tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati
tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang,
perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi
pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”.
c.
Berkata Imam
Qutaibah, bila Imam Malik keluar menyambut tamunya beliau berpakaian indah,
memakai sifat mata, wewangian dan membagi bagikan kipas kepada masing masing
tamunya, ia adalah Imam yang sangat berwibawa, majelis dirumahnya selalu hening
dan tak ada suara keras dan tak pula ada yang berani mengeraskan suaranya,
ruangan beliau dipenuhi kesejukan dan ketenangan, dan beliau dimakamkan di
kuburan Baqi’
2. BERBUAT BAIK KEPADA TETANGGA.
a. Hadist yang menerangkan
عَنْ عَائِشَةَ تَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُول
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ : مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِى
بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ اَنَّهُ لَيُوَرِّثَنَّهُ.
Dari ‘Aisah ra. Katanya dia mendengar
Rasulullah saw. Bersabda: " Jibril senantiasa berwasiat kepadaku supaya selalu baik kepada tetangga.
Sehingga aku menduga bahwa jibril akan menjadikannya pewaris. HR. Bukhori 2252.
عن أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : يَا اَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَحْتَ مَرَقَةً فَاَكْثِرْ
مَاءَ هَاوَ تَعَاهَدُ جِيْرَانَكَ.
Dari Abu Dzar, katanya Rasulullah saw
bersabda: bila engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya dan sisihkan untuk
tetanggamu. HR.
Bukhori 2253.
b.
Pemahaman secara
Tekstual
Dalam hadis diatas menerangkan bahwa Rasulullah saw.
Memerintahkan kepada kita agar berbuat baik kepada tetangga serta memperbanyak
kuah apabila kita memasak.
c. Pemahaman secara Kontekstual
Dalam masyarakat, kita diperintahkan berbuat baik
kepada tetangga baik yang islam maupun non islam, serta kita di suruh untuk
memberikan sesuatu apabila ada kelebihan pada kita.
d. Istimbat Hukum
Alangkah sepinya jika kita hidup sendiri, tiada
kawan tiada saudara maka beruntunglah kita sebagai manusia, di anugerahi semua
itu. Di dalam rumah kita memiliki keluarga, ada ayah-ibu, adik-kakak, bahkan
juga anak. Tak hanya itu saja, kita juga hidup bersama-sama orang-orang yang
hidup disekeliling kita, dengan mereka kita saling ulur tangan, saling menjaga,
memberikan rasa aman, dan juga saling melindungi dari bahaya orang-orang jahat
yang tidak bisa diprediksikan. Mereka yang hidup disekeliling kita yang bernama
tetangga.
Tetangga adalah saudara kita yang paling dekat entah
saudara seiman ataupun tidak, oleh karena itu dalam islam ditegaskan dan
disoroti begitu pentingnya tetangga itu, dan dianjurkan bahwa, hormatilah
tetanggamu, karena tetangga itu adalah benteng kita, pagar kita, yang tak kenal
menyerah, baik dalam segi social maupun sepiritual, itulah tetangga. Pada suatu
masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, tertidur di Masjidil Haram. Dia telah
bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada
yang lain, "Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?"
Jawab yang lain, "Enam ratus ribu."Lalu ia bertanya lagi,
"Berapa banyak yang diterima ?" Jawabnya, "Tidak seorang pun yang
diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia
tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada
tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq." Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar
percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat
ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke
rumahnya. Dan ketika diketuknya pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera
ia bertanya namanya. Jawab orang itu, "Muwaffaq." Lalu abdullah bin
Mubarak bertanya padanya, "Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan
sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?" Jawab Muwaffaq,
"Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat kerana keadaanku, tetapi
mendadak aku mendapat wang tiga ratus diirham dari pekerjaanku membuat dan
menampal sepatu, lalau aku berniat haji pada tahun ini sedang isteriku pula
hamil, maka suatu hari dia tercium bau makanan dari rumah jiranku dan ingin makanan
itu, maka aku pergi ke rumah jiranku dan menyampaikan tujuan sebenarku kepada
wanita jiranku itu. Jawab jiranku, "Aku terpaksa membuka rahsiaku,
sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan, kerana itu aku
keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba bertemulah aku dengan bangkai
himar di suatu tempat, lalu aku potong sebahagiannya dan bawa pulang untuk
masak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu."
Ketika aku mendegar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil wang
tiga ratus dirham dan keserahkan kepada jiranku tadi seraya menyuruhnya
membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam jagaannya
itu. "Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku." Kata Muwaffaq
lagi. Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahawa membantu jiran tetangga
yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat
anak-anak yatim. Rasulullah ada ditanya, "Ya Rasullah tunjukkan padaku
amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga." Jawab Rasulullah,
"Jadilah kamu orang yang baik." Orang itu bertanya lagi, "Ya
Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahawa aku telah berbuat baik?"
Jawab Rasulullah, "Tanyakan pada tetanggamu, maka bila mereka berkata
engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat,
maka engkau sebenarnya jahat."
Hak-hak bertetangga
a. Saling menengok jika ada yang sakit
b. Melayat jika ada yang meniggal
c. Saling menyimpan rahasia
d. Ikut bergembira jika tetangga kita gembira
e. Jika kena musibah maka harus saling membantu
f. Tidak meninggikan bangunan, jika mengganggu
g.
Ketika memasak hendaklah diperbanyak
kuahnya
Dalam kata lain
bahwa betetangga itu itu wajib hukumnya, saling mengasihi, menyayangi, dan
saling ulur tangan.
e. Pendapat Para Ulama
a. Menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud dengan tetangga adalah 40 rumah di
samping kiri, kanan, depan dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita
bertemu dengan mereka, baik hanya sekedar melempar semyuman, lambaian tangan,
salam atau ngobrol di antara pagar rumah dan sebagaimya
b. Dr Yusuf Qafdhawi menyebutkan, “seorang tetangga memitikt peran sentral
dalam memetihara harta dan kehormatan warga sekitarnya” Dengan demikian seorang
mukmin pada hakikatnya merupakan penjaga yang harus bertanggung jawab terhadap
keselamatan seluruh milik tetangganya Bahkan, seorang tidak dikatakan beriman
jika dia tidak bisa memberi rasa aman pada tetangganya.
c.
Kalimat “hendaklah ia memuliakan
tetangganya…….., maka hendaklah ia memuliakan tamunya” , menyatakan adanya hak
tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku
yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan di dalam Al Qur’an
keharusan berbuat baik kepada tetangga.
3. MENYANTUNI KAUM DHU’AFA.
a. Hadist yang menerangkan
عَنْ أَبىِ مُوسَى قَالَ: كاَنَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ إِذَا اَتَاهُ طَالِبٌ حَاجَةٍ اَقْبَلَ عَلَى جُلَسَائِهِ
فَقَالَ: إِشْفَعُوْا فَلْتُؤْ جَرُوا ، وَلْيَقْضِ اللهُ عَلىَ لِسَانِهِ نَبِيِّهِ
مَااَحَبَّ.
Dari abu musa ra katanya: apabila orang minta-minta
datang kepada Nabi saw. beliau menghadap kepada orang-orang yang duduk beserta
beliau. Lalu beliau bersabda : tolonglah mereka, niscaya tuan-tuan akan mendapatkan pahala, dan semoga
melalui ucapan Nabi-Nya terkabullah apa yang diinginkannya. HR. Bukhori 2254.
b.
Pemahaman secara
Tekstual
Hadist diatas memang terasa sedikit menerangkan,
tapi sangat luas sekali pemahamannya karena Nabi Muhammad menyuruh kita untuk
menolong orang tidak punya.
c. Pemahaman secara Kontekstual
Tolong menolonglah antar sesama manusia karena dalam
tolong menolong itu ada pahalanya, dan nabinyapun bisa menjadi lantaran atau
wasilah untuk mendapatkan pahala tersebut.
d.
Istimbat Hukum
Telah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kita,
ketimpangan-ketimpangan yang menggugah hati mulai dari ketimpangan spiritual,
moral, kehidupan social, perekonomian, kebudayaan dan masih banyk lagi. Tapi
disini kami hanya akan membahas tentang pentingnya peran kita untuk para
du’afa, yang mana kehidupan socialnya kurang diperhatikan, karena para du’afa
adalah asset yang paling besar jika kita mau untuk berfikir, mengapa karena
didasarkan pada kenyataan, seorang duafa itu lebih cepat masuk syurga, karena
harta yang dihisab tidak ada, dan doanya pun cepat terkabulkan. Maka dengan
menyantuni para du’afa kita akan menunai derajat yang mulia disisi Allah swt.
Posisi du’afalah yang cocok menjadi ladang kita untuk mencari keridlaan
Allah, tanpa du’afa dunia ini akan kiamat, kenapa? Karena kalau semua orang itu
kaya, siapa yang akan saling kasih mengkasihi.Sudah
dijelaskan tadi, bahwa du’afa adalah aset yang paling bagus untuk mencari
keridlaanNya. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita baik dhohir
maupun batin harus kita hormati, begitulah seharusnya sebagai umat yang
beradab, hidup rukun saling harga-menghargai;
Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan
sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong
royong dalam melaksanakan perintah Agama maupun Negara, jangan sampai terjadi
perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya: "'Adzabun
Alim", yang berarti duka nestapa untuk selama-lamanya dari Dunia
sampai Akhirat (badan payah, hati susah);
Terhadap orang-orang yang keadaannya dibawah kita, janganlah hendak
menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersifat angkuh. Sebaliknya harus
belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya,
jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya
harus dituntun dibimbing dengan nasehat yang lemah lembut yang akan memberi
keinsyafan dalam menginjak jalan kebajikan;
Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah-tamah serta bermanis
budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan
diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena
itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka
jadi fakir miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.
PENUTUP
1. Kesimpulan.
Demikianlah,
sesungguhnya dalam islam itu tertata dengan rapi, dan sangat lembut untuk
menuju kehidupan yang lebih harmonis kepada semua insan tanpa ada pilih kasih,
dan sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun kepada orang asing
karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam As. Mengingat ayat 70 Surat al-Isra
yang artinya: "Sangat Kami muliakan keturunan Nabi Adam dan Kami
sebarkan segala yang berada didarat dan lautan, juga Kami mengutamakan mereka
lebih utama dari mahluk lainnya". Kesimpulan dari ayat ini bahwa kita
sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan,
mengingat surat
al Maidah yang artinya: "Hendaklah tolong menolong dengan sesama dan
dalam melaksanakan kebajikan dan ketakwaan dengan sungguh-sungguh terhadap
Agama maupun Negara, sebaliknya jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan
permusuhan terhadap perintah Agama maupun Negara".
Jadi
semakin jelas bahwa kita sebagaimana model interaksi yang ideal antar kita
dengan orang yang lebih tinggi dari kita, dengan sesama dalam arti yang sederajat
dalam segalanya, dengan orang yang ada dibawah kita dan dengan fakir miskin. Dan
islam juga menjelaskan bahwa kedamaian lahir bathin akan terwujud
ditengah-tengah masyarakat manakala masing-masing individu berpegang teguh
terhadap etika sosial. karena ada
dalil “ sesungguhnya sesuatu itu tergantung pada niatnya” dan “ perintah
kepada sesuatu, berarti melarang pada sesuatu”. Jadi kami menyimpulkan
bahwa hukum untuk Menghormati tamu dan tetangga Serta menyantuni kaum dhu’afa
itu tergantung pada individu masing-masing.
Adapun
menurut hemat kami ada beberapa hukum sebagai berikut:
1. Wajib, jika perbuatan tersebut
tidak membawa kemudharatan kepada kita, tapi sebaliknya akan membawa tatanan
hidup yang harmonis dalam khasanah masyarakat yang madani.
2. Sunah, jika perbuatan tersebut
tersebut akan membawa dampak yang sangat positif bagi kelangsungan
bermasyarakat.
3. Mubah, jika perbuatan tersebut
tidak berlebih-lebihan, atau dalam kata lain tidak membawa efek yang
membahayakan dan kelangsungan bermasyarakat.
4. Makruh, dalam devinisinya
adalah suatu larangan jika ditinggalkan mendapat pahala, dan jika dilakukan
tidak mendapatkan siksa. Maka menurut kami, jika perbuatan tersebut tidak
membawa akibat yang buruk dan juga tidak membawa mambawa manfaat, maka
lakukanlah untuk masalah ini.
5.
Haram,
jika Menghormati tamu dan tetangga Serta menyantuni kaum dhu’afa akan membawa
kerusakan tatanan kehidupan bermasyarakat serta social, maka hindarilah untuk Menghormati
tamu dan tetangga Serta menyantuni kaum dhu’afa tersebut. Waallahu a’lam.
2. SARAN
Dalam sebuah
hadist dijelaskan: "Bukanlah dari golonganku orang yang tidak sayang
kepada yang ada dibawahnya dan tidak menaruh hormat kepada orang yang ada
diatasnya". Lebih dari itu, kami juga membuat patokan bagaimana
seharusnya sikap kita dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dengan orang asing,
baik yang seagama dengan kita maupun yang tidak seagama. Kita harus tetap
saling hormat menghormati, harga menghargai Tepo Seliro.
Menyangkut
Hubungan dengan Non Muslim lebih jelas lagi, kami menegaskan seperti berikut: "Adapun
soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat surat Al Kafirun ayat 6: 'Agamamu untuk kamu,
Agamaku untuk ku', maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup
rukun dan damai, saling harga menghargai, tapi janganlah ikut campur".
Jadi kami menggaris bawahi adanya toleransi beragama, sejauh tidak melanggar
etika teologis. Jangan karena alasan toleransi, keyakinan di korbankan.
Oleh karena
itu, dalam urusan agama janganlah kita ikut-ikutan, tetapi dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan, ekonomi maupun politik, kita menyatu secara damai dan
toleran. Selanjutnya tambahan lain menjelaskan, "Cobalah renungkan
pepatah leluhur kita: hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai,
andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak
berguna, karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat
dari perbuatan diri sendiri". Pernyataan diatas, disamping mengandung
ajaran moral dan akhlak, mengandung pula ajaran teologi. Ketika seseorang
dituntut untuk bersikap dan berprilaku terhadap fakir miskin, maka ia harus
bersikap jabbariyah. Akan tetapi, ketika melihat kenyataan kehancuran
sekelompok manusia yang tidak bersyukur, ada tuntutan untuk bersikap
khodariyah. Kehancuran dan kehinaan manusia karena ulahnya sendiri, bukan
kehendak Allah.
Terahir kami menyatakan: "Oleh karena
demikian, hendaklah segenap Mahasiswa bertindak teliti dalam segala jalan yang
ditempuh, guna kebaikan lahir dan batin dunia maupun akhirat, supaya hati
tentram. jasad aman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain
tujuannya: Budi utama jasmani sempurna. Tidak lain amalan kita, yaitu saling
mengasihi diantara sesama makhluk Allah, jadi amalkan sebaik-baiknya guna
mencapai kebajikan, menjauhi segala kejahatan lahir batin yang bertalian dengan
jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh
perdaya syetan".
Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan semoga saran
dan kritik teman-teman Mahasiswa dapat menjadi penopang hidup kita menjadi yang
lebih baik, dan selalu mendapatkan ridlo dari Allah swt. Aamiin aamiin.
0 Tinggalkan jejak:
Posting Komentar