Rabu, 30 April 2014
DOWNLOAD TERJEMAHAN KITAB IHYA ULUMUDDIN
Kitab hasil karya Imam Abu Hamid
Al-Ghazali yang sering dijadikan sebagai sandaran dan rujukan bagi sebagian
ummat Islam terutama di Indonesia.
Imam Al-Ghazali sering sekali dianggap sebagai ahli filsafat Islam dan ilmu
kalam. Dan kitabnya yang berjudul Ihya Ulumuddin itu pun dianggap sebagai
‘masterpiece’ Imam Al-Ghazali dalam hal imu kalam dan filsafat.
Ebook Islami Gratis : Kumpulan Bahtsul Masail, Kitab-Kitab Klasik Terjemah dan Risalah-Risalah Diniyyah
Beberapa
ebook ini merupakan file yang kami dapati beberapa situs Islami. Dalam
menyajikan ebook-ebook ini, kami juga menyertakan ebook yang berbahasa arab
agar bisa sama-sama di download. Adapun untuk membuka file-file ebook yang ada
bisa menggunakan software berikut :
Bid’ah Menurut Penjelasan Para Ulama Ahlussunah Wal Jama’ah
Bid’ah Menurut Penjelasan
Para Ulama Ahlussunah Wal
Jama’ah (ASWAJA)
1. Imam Syafii
“Bid’ah terbagi menjadi 2 bagian.
Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi
Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di
antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang
sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik (hasanah) dan tidak menyalahi
al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak
tercela”
Minggu, 27 April 2014
Fenomena Tahlil Dalil-dalil tahlil dan keutamaan lafadz tahlil
FENOMENA TAHLIL
Tahlil berasal
dari kata الهيللة
yaitu : mengucapkan لاإله
إلاالله bentuk fi’ilnya
adalah هلل
يهلل artinya membaca/ mengucapkan لاإله
إلاالله sedangkan bentuk
masdarnya :
تهليلا / التهليل yang bermakna ucapan لاإله إلاالله.
Bimbingan dan Konseling
Pengertian bimbingan.
Berdasarkan pasal 27 peraturan
pemerintah nomor 29/90,”bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kedalam
siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungannya dan
merencanakan masa depan”. (depdikbud,1994).
MEMBANGUN GENERASI QUR`ANI
A. Latar Belakang
read more...
jika kita renungi judul makalah
ini maka memang terdengar ringan diucapkan akan tetapi jika memang kita
terapkan maka akan semakin mendalamkan keyakinan kita bahwa al-Qur’an sangat
penting dibaca, dipelajari, digali, dipahami, di jiwai, dan diaktualisasikan
dalam kehidupan nyata. Bagaimana upaya kita membangun generasi pengamal al-Qur’an,
yang menjunjung tinggi al-Qur’an, berpegang teguh kepada al-Qur’an,
Pemahaman Tentang Ulama dan Kiai
Ada pernyataan menarik tentang pengertian “Kyai” dari KH. Musthofa Bisri Rembang (Gus Mus). >>>>>>
Pada saat itu Gus Mus berkhutbah dalam pengajian haul KH Ali Maksum di Krapyak, Gus Mus (KH Mustofa Bisri Rembang) yang didaulat sebagai pembicara membawa hadirin pada suasana nostalgia, yakni masa-masa di saat beliau nyantri dulu mengenang kearifan para Kyai zaman dahulu.
Pada saat itu Gus Mus berkhutbah dalam pengajian haul KH Ali Maksum di Krapyak, Gus Mus (KH Mustofa Bisri Rembang) yang didaulat sebagai pembicara membawa hadirin pada suasana nostalgia, yakni masa-masa di saat beliau nyantri dulu mengenang kearifan para Kyai zaman dahulu.
Pemahaman Barokah di Pesantren
Secara literatur kata barokah mempunyai beberapa arti. Diantaranya adalah kenikmatan dan kebaikan seperti pada surat al-A’raf surat 96 yang artinya “jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa niscaya kami bukakan bagi mereka barokah-barakah (kenikmatan) dari langit dan dari bumi”. Sementara arti bebasnya adalah nilai plus pada, untuk, bagi siapa yang dikehendaki Allah di antara hamba-hambanya, baik langsung atau melalui perantara, sebagai karunia dan rahmatnya-Nya dan diluar rasio kebanyakan orang.
SIAPA YANG INGIN NEGARANYA BERSIH?
Alhamdulillahi
Robbil ‘alamin, segala puji kami panjatkan pada kepada Allah SWT, atas rohmat
dan kasih sayang-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas membuat makalah
ini dengan baik.
Sholawat dan
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW
yang telah membimbing kita, memberi uswah kepada kita tentang tutur kata
yang halus, prilaku yang santun, sifat yang mulia, bahkan yang senantiasa yang
kita harapkan syafa’atnya di Hari Kiamat nanti.
DEMOKRASI PENDIDIKAN PESANTREN
“Kamu jangan selalu
fanatik di pendidikan, jangan paksakan anakmu sesuai dengan kehendakmu, tapi
tolong arahkan bakat anak itu. Bakat anak itu apa, kemudian dukung sesuai
dengan bakatnya,” [1]
Petuah KH. Mahrus diatas sangat demokratis. Dalam arti orang
tua tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk menekankan anaknya menekuni satu
bidang tertentu.
MENJAGA NAMA BAIK
Di Arab sebelum kemunculan Islam, ada seorang raja bernama Nu’man bin Mundzir. Dia memiliki kebiasaan aneh. Dia menetapkan di dalam setahun, ada hari baik dan ada hari naas. Hari yg dia tetapkan sebagai hari baik, siapapun orang yg ditemuinya akan dihormati dan diperlakukan dengan baik. Sebaliknya, jika hari itu hari naas, orang yg menemuinya akan dibunuh tanpa alasan.
read more...
Sabtu, 26 April 2014
SEPULUH PARA SAHABAT NABI YANG DIJAMIN MASUK SURGA
Sahabat Rasulullah SAW yang
dijamin masuk surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH
ANNADHIRAH FI MANAQIBIL ASYARAH“ dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah
masuk kerumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar
kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi SAW
bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu :
Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya
Nuh;
Pemabuk Cinta
“Barangsiapa mabuk cinta, lalu menjaga diri (dari hal-hal yang tak baik) dan merahasiakan cintanya, kemudian wafat, maka dia adalah syahid.”
Hadits kontroversial yang banyak didhaifkan oleh ulama. Akan tetapi pesannya sangat baik, yakni bahwa cinta sudah seharusnya dibiarkan suci dan jangan dikotori dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Dan jika perlu, kesuciannya ditebus dengan nyawa. Sungguh mulia mereka yang jatuh cinta, yang karena tak mungkin diteruskan rela menyimpannya dalam hati hingga menghembuskan nyawanya.
Hadits kontroversial yang banyak didhaifkan oleh ulama. Akan tetapi pesannya sangat baik, yakni bahwa cinta sudah seharusnya dibiarkan suci dan jangan dikotori dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Dan jika perlu, kesuciannya ditebus dengan nyawa. Sungguh mulia mereka yang jatuh cinta, yang karena tak mungkin diteruskan rela menyimpannya dalam hati hingga menghembuskan nyawanya.
KUMPULAN ePUSTAKA ISLAMI [lengkap]
Alhamdulillah, akhirnya rencana membuat kumpulan
hasil diskusi dan tanya jawab keagamaan khususnya hasil bahtsul masaail
pesantren terealisasi juga, setelah ide tersebut terbengkalai 3 tahun lebih,
meski sudah memiliki perangkat dan software yang dibutuhkan. Namun dalam
penundaan tersebut justru banyak hal positif yang didapatkan, terutama dalam
tambahan materi yang dikumpulkan dalam ePustaka Islami ini.
Khadijah r.a., Potret Wanita Pejuang Dakwah Islam
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Pengantar
Menjadi wanita adalah kodrat sekaligus anugerah Allah. Barangkali
tidak mudah dijalani dan penuh jalan terjal. Tapi adalah keniscayaan jika
wanita kemudian menjadi isteri bagi suami, dan menjadi ibu dari anak-anaknya. Peran
domestik yang sudah sedemikian repot ini kadang masih ditambah dengan
Jumat, 25 April 2014
Pesan “Sang Kiai” tentang Pendidikan Karakter
Film garapan Rako Prijanto “Sang Kiai” akhirnya terpilih menjadi film bioskop terbaik Piala Citra pada malam anugerah Festival Film Indonesia (FFI) 2013 di kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (7/12).
Selain itu tiga penghargaan lain juga diraih film “Sang Kiai”, yakni Rako Prijanto sendiri terpilih menjadi sutradara terbaik, Adipati Dolken (pemeran Haroen) meraih Pemeran pendukung pria terbaik, juga Khikman Santosa sebagai penata suara terbaik dalam film “Sang Kiai”. Film “Sang Kiai” kemudian akan mewakili Indonesia ke Academy Awards 2014.
Film ini bukan hanya sekedar film, namun benar-benar sejarah bangsa Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. “Sang Kiai” adalah saksi sejarah untuk refleksi pendidikan Indonesia. Simak saja salah satu dialognya. “Kenapa Kiai ikut memanen sendiri dengan para petani, Kiai kan bisa saja menyuruh kulo atau santri lain untuk memanen padi,” begitulah dialog pertama dari film Hadratussyaikh Sang Kiai.
Hadratussyaikh yang tak lain adalah KH. Hasyim Asy’ari memang terkenal dengan sosok yang sangat sederhana. Keikutsertaannya dalam memanen padi memang biasa dia lakukan, baginya memanen padi sendiri menjadikannya mengetahui jerih payah para petani sehingga ketika sudah menjadi padi kemudian nasi, maka akan lebih menghargai hasil dari para petani.
Petani adalah pekerjaan yang selalu dipenuhi kesabaran dan ketawakalan, karena yang dilakukannya didasarkan pada kerjakeras dan keikhlasan. Begitupun yang dilakukan oleh KH. Bisyri Musthofa ayahanda Kiai Musthofa Bisri (Gus Mus), jika ingin memberi uang pada anak-anaknya yang berada di pesantren, beliau selalu memberikan uang hasil pertaniannya, jika beliau belum mendapatkan hasil pertanian beliau rela meminjam uang seorang petani hanya untuk memberikan uang anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu.
Alasan beliau adalah karena uang yang dihasilkan dari seorang petani adalah uang yang mengandung keberkahan yang banyak karena jerih payah kesabaran sang petani inlah yang meyakinkan Kiai Bisyri bahwa akan membuat anak-anaknya mendapatkan ilmu yang bermanfaat selama-lamanya.
Kisah dari para kiai ini adalah merupakan bagian dari memuliyakan ilmu. Ketika ilmu didapatkan dari kerja keras dan harta yang halal dan baik (thoyyib) maka ilmu itu bisa memberi kemanfaatan bagi yang memilikinya. Ilmu yang bermanfaat adalah lebih dari segala sesuatu yang berharga di dunia ini.
Digugu dan Ditiru
Seorang ulama atau kiai tak lain adalah seorang guru atau pendidik. Mendidik para santri-santri dan masyarakat lokal yang berada di lingkungan pesantren. Menurut Qodri Abdillah Azizy (2000) pesantren merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi para pecinta ilmu dan peneliti yang berupaya untuk mengurai anatominya dari berbagai dimensi.
Kesahajaan para kiai menjadikan santri-santrinya ta’dzim dan mengikuti apa yang dikatakannya. Ini dikarenakan kiai merupakan sosok yang sangat melekat dalam kebudayaan lokal masyarakat. Sehingga julukan “kiai” itu bukan hanya sekedar jabatan atau pekerjaan, namun merasuk kedalam hati masyarakat. Begitupun dengan santri, istilah santri juga bukan hanya karena dia belajar pada kiai, namun “santri’ melekat pada ruh orang yang belajar (mengaji) pada sosok kiai. Yang membawa perasaan ini pada sifat tawadhu’ atau rendah hati. Terbukti, ketika santri seorang kiai menjadi orang pintar dan sukses dalam kehidupannya, namun dia tetap merasa menjadi seorang santri.
Keistimewaan pada sosok Kiai menjadikan sebuah cermin yang berharga bagi para pendidik di zaman sekarang. Karena sekarang ini banyak guru yang tidak bisa menghargai muridnya, dan banyak pula murid yang tidak menghormati gurunya. Padahal keduanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena terjadinya transformasi keilmuan selalu membutuhkan peran keduanya.
Pesan Perjuangan
“Baiklah, tangkap saja saya,” begitu dialog pada film Sang Kiai, ketika KH. Hasyim Asy’ari melihat santri-santrinya disiram minyak dan akan dibakar oleh pasukan Jepang. Ini menunjukkan bahwa seorang pendidik harus siap di barisan terdepan ketika anak didik kita dalam bahaya. Karakter kuat yang dimiliki para Kiai juga terletak pada menjunjung tinggi para santrinya, bagaimanapun santrinya adalah hidupnya. Ketika mengajarkan hal yang buruk maka buruk pula dirinya, namun ketika mengajarkan hal yang baik, maka akan lahir generasi yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan.
Melihat kondisi bangsa Indonesia ini seakan lebih buruk dari pada zaman penjajahan. Kini bangsa Indonesia kembali dijajah, bukan dengan senjata atau nuklir namun dijajah karena kebodohan yang dimiliki bangsa ini. Bodoh karena selalu memperdebatkan perbedaan dan berdampak pada perpecahan. Bodoh karena lebih mengutamakan harta kekayaan dari pada ilmu yang manfaat, sehingga yang terjadi adalah persaingan bisnis yang memanas yang kemudian berdampak pada kerusakan alam. Bodoh pula karena lebih mencintai atau menggemari budaya luar, dari pada menjunjung tinggi budaya bangsa. Sehingga kemudian tidak aneh ketika anak remaja lebih mengenal girlband atau boyband dari pada pahlawan bangsa, bahkan mengingat gurunya. Bahkan lagu-lagu warisan budaya yang serat akan nilai moral kalah pamor dengan lagu-lagu barat dan korea yang selalu menghiasi panggung hiburan tanah air kita.
Sekarang sudah sangat jarang terdengar lagu-lagu menyimpan nilai pendidikan yang dilantunkan oleh generasi muda bangsa. Ini membuktikan generasi bangsa mulai miskin kearifan lokal. Jika hal semacam ini berlangsung terus menerus maka yang terjadi adalah generasi bangsa kehilangan akar dan pondasinya. Padahal para foundng fathers membangun bangsa ini dengan menjunjung kearifan lokal dan melestarikan kebudayaan yang itu merupakan wujud dari kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Kembali belajar pada Kiai dan founding fathers bangsa ini. Mereka rela berkorban mengerahkan pikiran, tenaga dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa ini. Menjadi sosok yang mampu merasuk dalam jiwa dan ruh peserta didik dan masyarakat. Karena dengan mencintai Negeri ini adalah sebagian dari iman. (NU)
Selain itu tiga penghargaan lain juga diraih film “Sang Kiai”, yakni Rako Prijanto sendiri terpilih menjadi sutradara terbaik, Adipati Dolken (pemeran Haroen) meraih Pemeran pendukung pria terbaik, juga Khikman Santosa sebagai penata suara terbaik dalam film “Sang Kiai”. Film “Sang Kiai” kemudian akan mewakili Indonesia ke Academy Awards 2014.
Film ini bukan hanya sekedar film, namun benar-benar sejarah bangsa Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. “Sang Kiai” adalah saksi sejarah untuk refleksi pendidikan Indonesia. Simak saja salah satu dialognya. “Kenapa Kiai ikut memanen sendiri dengan para petani, Kiai kan bisa saja menyuruh kulo atau santri lain untuk memanen padi,” begitulah dialog pertama dari film Hadratussyaikh Sang Kiai.
Hadratussyaikh yang tak lain adalah KH. Hasyim Asy’ari memang terkenal dengan sosok yang sangat sederhana. Keikutsertaannya dalam memanen padi memang biasa dia lakukan, baginya memanen padi sendiri menjadikannya mengetahui jerih payah para petani sehingga ketika sudah menjadi padi kemudian nasi, maka akan lebih menghargai hasil dari para petani.
Petani adalah pekerjaan yang selalu dipenuhi kesabaran dan ketawakalan, karena yang dilakukannya didasarkan pada kerjakeras dan keikhlasan. Begitupun yang dilakukan oleh KH. Bisyri Musthofa ayahanda Kiai Musthofa Bisri (Gus Mus), jika ingin memberi uang pada anak-anaknya yang berada di pesantren, beliau selalu memberikan uang hasil pertaniannya, jika beliau belum mendapatkan hasil pertanian beliau rela meminjam uang seorang petani hanya untuk memberikan uang anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu.
Alasan beliau adalah karena uang yang dihasilkan dari seorang petani adalah uang yang mengandung keberkahan yang banyak karena jerih payah kesabaran sang petani inlah yang meyakinkan Kiai Bisyri bahwa akan membuat anak-anaknya mendapatkan ilmu yang bermanfaat selama-lamanya.
Kisah dari para kiai ini adalah merupakan bagian dari memuliyakan ilmu. Ketika ilmu didapatkan dari kerja keras dan harta yang halal dan baik (thoyyib) maka ilmu itu bisa memberi kemanfaatan bagi yang memilikinya. Ilmu yang bermanfaat adalah lebih dari segala sesuatu yang berharga di dunia ini.
Digugu dan Ditiru
Seorang ulama atau kiai tak lain adalah seorang guru atau pendidik. Mendidik para santri-santri dan masyarakat lokal yang berada di lingkungan pesantren. Menurut Qodri Abdillah Azizy (2000) pesantren merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi para pecinta ilmu dan peneliti yang berupaya untuk mengurai anatominya dari berbagai dimensi.
Kesahajaan para kiai menjadikan santri-santrinya ta’dzim dan mengikuti apa yang dikatakannya. Ini dikarenakan kiai merupakan sosok yang sangat melekat dalam kebudayaan lokal masyarakat. Sehingga julukan “kiai” itu bukan hanya sekedar jabatan atau pekerjaan, namun merasuk kedalam hati masyarakat. Begitupun dengan santri, istilah santri juga bukan hanya karena dia belajar pada kiai, namun “santri’ melekat pada ruh orang yang belajar (mengaji) pada sosok kiai. Yang membawa perasaan ini pada sifat tawadhu’ atau rendah hati. Terbukti, ketika santri seorang kiai menjadi orang pintar dan sukses dalam kehidupannya, namun dia tetap merasa menjadi seorang santri.
Keistimewaan pada sosok Kiai menjadikan sebuah cermin yang berharga bagi para pendidik di zaman sekarang. Karena sekarang ini banyak guru yang tidak bisa menghargai muridnya, dan banyak pula murid yang tidak menghormati gurunya. Padahal keduanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena terjadinya transformasi keilmuan selalu membutuhkan peran keduanya.
Pesan Perjuangan
“Baiklah, tangkap saja saya,” begitu dialog pada film Sang Kiai, ketika KH. Hasyim Asy’ari melihat santri-santrinya disiram minyak dan akan dibakar oleh pasukan Jepang. Ini menunjukkan bahwa seorang pendidik harus siap di barisan terdepan ketika anak didik kita dalam bahaya. Karakter kuat yang dimiliki para Kiai juga terletak pada menjunjung tinggi para santrinya, bagaimanapun santrinya adalah hidupnya. Ketika mengajarkan hal yang buruk maka buruk pula dirinya, namun ketika mengajarkan hal yang baik, maka akan lahir generasi yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan.
Melihat kondisi bangsa Indonesia ini seakan lebih buruk dari pada zaman penjajahan. Kini bangsa Indonesia kembali dijajah, bukan dengan senjata atau nuklir namun dijajah karena kebodohan yang dimiliki bangsa ini. Bodoh karena selalu memperdebatkan perbedaan dan berdampak pada perpecahan. Bodoh karena lebih mengutamakan harta kekayaan dari pada ilmu yang manfaat, sehingga yang terjadi adalah persaingan bisnis yang memanas yang kemudian berdampak pada kerusakan alam. Bodoh pula karena lebih mencintai atau menggemari budaya luar, dari pada menjunjung tinggi budaya bangsa. Sehingga kemudian tidak aneh ketika anak remaja lebih mengenal girlband atau boyband dari pada pahlawan bangsa, bahkan mengingat gurunya. Bahkan lagu-lagu warisan budaya yang serat akan nilai moral kalah pamor dengan lagu-lagu barat dan korea yang selalu menghiasi panggung hiburan tanah air kita.
Sekarang sudah sangat jarang terdengar lagu-lagu menyimpan nilai pendidikan yang dilantunkan oleh generasi muda bangsa. Ini membuktikan generasi bangsa mulai miskin kearifan lokal. Jika hal semacam ini berlangsung terus menerus maka yang terjadi adalah generasi bangsa kehilangan akar dan pondasinya. Padahal para foundng fathers membangun bangsa ini dengan menjunjung kearifan lokal dan melestarikan kebudayaan yang itu merupakan wujud dari kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Kembali belajar pada Kiai dan founding fathers bangsa ini. Mereka rela berkorban mengerahkan pikiran, tenaga dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa ini. Menjadi sosok yang mampu merasuk dalam jiwa dan ruh peserta didik dan masyarakat. Karena dengan mencintai Negeri ini adalah sebagian dari iman. (NU)
Bagaimana Rasulullah Mengenali Umatnya?
Dikisahkan, ada seorang lelaki yang tidak pernah membaca shalawat nabi. Suatu ketika dia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Tapi yang mengherankan, Rasulullah SAW justru berpaling muka darinya.
Heran atas apa yang dilihatnya, lelaki itu memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah SAW Apakah engkau marah kepadaku?” tanya lelaki itu.
“Tidak.” jawab Rasulullah.
“Mengapa engkau tidak memandang ke arahku?”
“Karena aku tidak mengenalmu.”
“Bagaimana bisa? Aku adalah salah satu dari umatmu. Ulama meriwayatkan bahwa engkau (Rasulullah) mengenal umatmu seperti seorang ibu pada anak kandungnya.”
“Para ulama benar. Tetapi kamu tidak pernah menyebutku dalam shalawat. Aku mengenal umatku sesuai jumlah shalawat yang mereka baca untukku.”
Lelaki itu tiba-tiba terbangun. Dia berjanji pada dirinya, mulai hari itu akan membaca shalawat nabi seratus kali dalam sehari. Dan akhirnya dia bisa menjalankan janjinya itu.
Dalam kesempatan lain, lelaki itu bermimpi lagi bertemu Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sekarang aku mengenalmu dan kelak akan memberikan syafaat kepadamu.”
Bahagia lelaki itu mendengarkan kata-kata dari orang yang sangat dicintainya itu.
Maukah kita merasakan kebahagiaan yang sama seperti orang tadi, bahkan lebih dari itu? Maka bershalawatlah! (NU)
Heran atas apa yang dilihatnya, lelaki itu memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah SAW Apakah engkau marah kepadaku?” tanya lelaki itu.
“Tidak.” jawab Rasulullah.
“Mengapa engkau tidak memandang ke arahku?”
“Karena aku tidak mengenalmu.”
“Bagaimana bisa? Aku adalah salah satu dari umatmu. Ulama meriwayatkan bahwa engkau (Rasulullah) mengenal umatmu seperti seorang ibu pada anak kandungnya.”
“Para ulama benar. Tetapi kamu tidak pernah menyebutku dalam shalawat. Aku mengenal umatku sesuai jumlah shalawat yang mereka baca untukku.”
Lelaki itu tiba-tiba terbangun. Dia berjanji pada dirinya, mulai hari itu akan membaca shalawat nabi seratus kali dalam sehari. Dan akhirnya dia bisa menjalankan janjinya itu.
Dalam kesempatan lain, lelaki itu bermimpi lagi bertemu Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sekarang aku mengenalmu dan kelak akan memberikan syafaat kepadamu.”
Bahagia lelaki itu mendengarkan kata-kata dari orang yang sangat dicintainya itu.
Maukah kita merasakan kebahagiaan yang sama seperti orang tadi, bahkan lebih dari itu? Maka bershalawatlah! (NU)
Korupsi dan Kosongnya Spiritualitas
Mereka yang memiliki spiritual unggul atau sejati, memastikan Allah swt. sebagai sentrum bagi semua energi kehidupannya. Selain Dia, pada hakekatnya tiada sebab adanya selain Dia selalu dibatasi ruang dan waktu. Maka, pengaguman berlebihan atas mawjud selain Allah berdampak pada sikap mengabaikan hakekat-Nya, jika tidak mengatakan lalai, bahkan tidak jarang sikap itu berpengaruh pada mentalitas nilai yang diperebutkan.
Statemen di atas adalah salah satu pernik dari orasi ilmiah bertajuk Studium General dengan Tema “Tasawuf; Spiritualitas dan manusia Universal” yang disampaikan oleh KH. DR. Said Aqil Siraj, MA di Audutorium UIN Sunan Ampel Surabaya (7/11). Statemen ini syarat makna hingga layak direfleksikan kembali kaitannya dengan konteks kehidupan yang nyata sebab hidup ini pasti ada ujungnya (berakhir dengan kematian), tinggal bagaimana kepastian sampai keujung itu dengan selamat atau dalam bahasa agama disebut khusnul khotimah.
Oleh karenanya, masih maraknya praktik korupsi dan tindakan kekerasan atas nama apapun yang dilakukan oleh individu atau kelompok setidaknya menggambarkan rapuhnya mentalitas spiritual anak bangsa. Tertangkapnya Akil Mochtar, ketua MK, semakin menunjukkan bahwa gelombang korupsi mampu menyapu semua orang, bahkan penegak hukum sekalipun. Ketika hukum tidak diindahkan akibat ulah segelintir orang, maka tidak sedikit orang beranggapan bahwa jalan pintas adalah hal terbaik sekalipun akhirnya melakukan pembunuhan.
Maka menegaskan kembali orientasi nilai seseorang untuk hidup penting untuk terus didiskusikan, alih-alih di zaman dimana rasionalitas dipandang sebagai “jenderal” bagi penentu kebenaran. Budaya rasionalitas sebagai potret manusia modern nampaknya telah mulai digugat –termasuk dikalangan Barat—sebab ternyata ini adalah sumber bencana bagi munculnya individu-individu kanibalistik yang tidak menghormati sendi-sendi kemanusiaan demi sekedar memperebutkan kepentingan sesaat dan jangka pendek, lagi-lagi itungannya hanya sisi rasional-materialistik.
Ada persoalan persepsi yang kurang tepat, jika tidak mengatakan salah, dalam memaknai hidup. Jika memang persepsi hidup ini hanya untuk makan, bukan makan untuk hidup, maka adalah niscaya bila kemudian model orang seperti ini akan mengumbar syahwatnya dengan mencari kekayaan sebanyak mungkin agar syahwat perut terpenuhi. Padahal, mengutip al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulum al-Din, perut adalah sumber bencana dan syahwat. Jika syahwat perut tidak dikendalikan akan berdampak pada munculnya syahwat-syahwat lainnya bahkan akan mematikan pertumbuhan spiritualitas seseorang.
Manusia Luhur
Maka dengan itu, manusia tidak cukup hanya mengandalkan rasionalitas dengan kebanggaannya menggunakan standar ilmiah dalam menilai sesuatu, manusia perlu spiritualitas untuk dijadikan “panglima” yang mendasari setiap ranah perjalanan hidupnya. Spiritualitas dengan makna yang lebih membumi dimaksudkan bukan mereka yang hanya taat mengerjakan rutinitas peribadatan secara syar’i, tapi lebih dari itu menjadikan orientasi nilai hidup mengarah pada satu titik- bukan yang lain, yakni pada dzat yang mutlak tanpa dibatasi oleh relativitas ruang dan waktu.
Dengan cara itu cita-cita manusia luhur sedikit demi sedikit akan tercapai. Manusia yang luhur tidak terjebak pada formalitas semata, tapi lebih dari itu selalu tergugah untuk memahami secara utuh –dan mengamalkan—makna dibalik formalitas tersebut. misalnya, ajaran tentang sholat bukan saja persoalan ruku’ sujud dan lain-lain, tapi adalah proses ketertundukan manusia secara total di hadapan sang Pencipta. Kalau persoalan sholat hanya sebatas formalitas, anak kecil pun bila melakukannya.
Atas dasar pemahaman ini, maka demi dan atas nama kebenaran, seseorang tidak mudah ditundukkan, alih-alih disuap. Tindakan korupsi menggambarkan pelakunya ditundukkan oleh hawa nafsu, setidaknya ia ingin menegaskan eksistensi dirinya agar diakui orang lain. Dengan korupsi semakin banyak, pelakunya dengan mudah membeli fasilitas mewah dan merasa bangga di hadapan mereka yang tidak punya. Mereka tertawa, tapi rakyat selalu dijadikan tumpal sebab sebagaimana lazim dana-dana yang dikorupsi adalah dana untuk kemaslahatan rakyat kecil.
Manusia luhur dan kaya tidak diukur oleh penumpukan kekayaan yang melimpah melainkan sejauh mana kekayaan itu diperoleh dan digunakan sebagai sarana kemaslahatan manusia yang lain. Manusia yang luhur diukur dengan mantap sejauh mana pembumian spiritual diproses secara menyeluruh dalam kehidupan, setidaknya sebagai manifestasi dari pemahaman bahwa cinta kepada Tuhan tidak akan wujud sempurna, bila tidak mencintai yang lain.
Akhirnya, selain Allah adalah ciptaan-Nya sekaligus manifestasi dari diri-Nya. Karenanya, yang lain adalah bagian dari kita sehingga tidak boleh mudah menyalahkan dan juga tidak boleh merasa paling benar. Sesuatu yang dianggap jelek hakekatnya baik sebab tidak ada kebaikan tanpa ada bandingannya, yakni kejelekan. Maka manusia tanpa spiritual adalah mereka yang lupa diri, suka mengumbar syahwat dan cenderung merugikan orang banyak, sekalipun mereka aktif beribadah. (NU)
Statemen di atas adalah salah satu pernik dari orasi ilmiah bertajuk Studium General dengan Tema “Tasawuf; Spiritualitas dan manusia Universal” yang disampaikan oleh KH. DR. Said Aqil Siraj, MA di Audutorium UIN Sunan Ampel Surabaya (7/11). Statemen ini syarat makna hingga layak direfleksikan kembali kaitannya dengan konteks kehidupan yang nyata sebab hidup ini pasti ada ujungnya (berakhir dengan kematian), tinggal bagaimana kepastian sampai keujung itu dengan selamat atau dalam bahasa agama disebut khusnul khotimah.
Oleh karenanya, masih maraknya praktik korupsi dan tindakan kekerasan atas nama apapun yang dilakukan oleh individu atau kelompok setidaknya menggambarkan rapuhnya mentalitas spiritual anak bangsa. Tertangkapnya Akil Mochtar, ketua MK, semakin menunjukkan bahwa gelombang korupsi mampu menyapu semua orang, bahkan penegak hukum sekalipun. Ketika hukum tidak diindahkan akibat ulah segelintir orang, maka tidak sedikit orang beranggapan bahwa jalan pintas adalah hal terbaik sekalipun akhirnya melakukan pembunuhan.
Maka menegaskan kembali orientasi nilai seseorang untuk hidup penting untuk terus didiskusikan, alih-alih di zaman dimana rasionalitas dipandang sebagai “jenderal” bagi penentu kebenaran. Budaya rasionalitas sebagai potret manusia modern nampaknya telah mulai digugat –termasuk dikalangan Barat—sebab ternyata ini adalah sumber bencana bagi munculnya individu-individu kanibalistik yang tidak menghormati sendi-sendi kemanusiaan demi sekedar memperebutkan kepentingan sesaat dan jangka pendek, lagi-lagi itungannya hanya sisi rasional-materialistik.
Ada persoalan persepsi yang kurang tepat, jika tidak mengatakan salah, dalam memaknai hidup. Jika memang persepsi hidup ini hanya untuk makan, bukan makan untuk hidup, maka adalah niscaya bila kemudian model orang seperti ini akan mengumbar syahwatnya dengan mencari kekayaan sebanyak mungkin agar syahwat perut terpenuhi. Padahal, mengutip al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulum al-Din, perut adalah sumber bencana dan syahwat. Jika syahwat perut tidak dikendalikan akan berdampak pada munculnya syahwat-syahwat lainnya bahkan akan mematikan pertumbuhan spiritualitas seseorang.
Manusia Luhur
Maka dengan itu, manusia tidak cukup hanya mengandalkan rasionalitas dengan kebanggaannya menggunakan standar ilmiah dalam menilai sesuatu, manusia perlu spiritualitas untuk dijadikan “panglima” yang mendasari setiap ranah perjalanan hidupnya. Spiritualitas dengan makna yang lebih membumi dimaksudkan bukan mereka yang hanya taat mengerjakan rutinitas peribadatan secara syar’i, tapi lebih dari itu menjadikan orientasi nilai hidup mengarah pada satu titik- bukan yang lain, yakni pada dzat yang mutlak tanpa dibatasi oleh relativitas ruang dan waktu.
Dengan cara itu cita-cita manusia luhur sedikit demi sedikit akan tercapai. Manusia yang luhur tidak terjebak pada formalitas semata, tapi lebih dari itu selalu tergugah untuk memahami secara utuh –dan mengamalkan—makna dibalik formalitas tersebut. misalnya, ajaran tentang sholat bukan saja persoalan ruku’ sujud dan lain-lain, tapi adalah proses ketertundukan manusia secara total di hadapan sang Pencipta. Kalau persoalan sholat hanya sebatas formalitas, anak kecil pun bila melakukannya.
Atas dasar pemahaman ini, maka demi dan atas nama kebenaran, seseorang tidak mudah ditundukkan, alih-alih disuap. Tindakan korupsi menggambarkan pelakunya ditundukkan oleh hawa nafsu, setidaknya ia ingin menegaskan eksistensi dirinya agar diakui orang lain. Dengan korupsi semakin banyak, pelakunya dengan mudah membeli fasilitas mewah dan merasa bangga di hadapan mereka yang tidak punya. Mereka tertawa, tapi rakyat selalu dijadikan tumpal sebab sebagaimana lazim dana-dana yang dikorupsi adalah dana untuk kemaslahatan rakyat kecil.
Manusia luhur dan kaya tidak diukur oleh penumpukan kekayaan yang melimpah melainkan sejauh mana kekayaan itu diperoleh dan digunakan sebagai sarana kemaslahatan manusia yang lain. Manusia yang luhur diukur dengan mantap sejauh mana pembumian spiritual diproses secara menyeluruh dalam kehidupan, setidaknya sebagai manifestasi dari pemahaman bahwa cinta kepada Tuhan tidak akan wujud sempurna, bila tidak mencintai yang lain.
Akhirnya, selain Allah adalah ciptaan-Nya sekaligus manifestasi dari diri-Nya. Karenanya, yang lain adalah bagian dari kita sehingga tidak boleh mudah menyalahkan dan juga tidak boleh merasa paling benar. Sesuatu yang dianggap jelek hakekatnya baik sebab tidak ada kebaikan tanpa ada bandingannya, yakni kejelekan. Maka manusia tanpa spiritual adalah mereka yang lupa diri, suka mengumbar syahwat dan cenderung merugikan orang banyak, sekalipun mereka aktif beribadah. (NU)
Kamis, 24 April 2014
Tahun Ini, Ujian Nasional Diikuti 6.939.605 Pelajar

Ujian nasional (UN) tahun ini akan diikuti 6.939.605 siswa.
Tak seperti tahun sebelumnya, untuk kelulusan ada perbedaan pada komposisi
nilai sekolah.
Alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur [6]
Assalamu'alaikum, kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
read more...
Alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur [5]
Assalamu'alaikum, kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
read more...
Riset Ilmiah Tentang Kebenaran Manusia Diciptakan dari Tanah Liat
Benarkah manusia diciptakan dari tanah liat seperti tertulis dalam ajaran
beberapa agama?
Bila yang dimaksud adalah benar-benar dibuat dari tanah liat, secara ilmiah,
jelas tidak. Namun, berdasarkan eksperimen, ilmuwan menyatakan bahwa tanah liat
memang berperan dalam evolusi molekul dan terciptanya makhluk hidup, termasuk
manusia.
Depresi Karena Facebook, Kok Bisa?
Jejaring sosial,
seperti Facebook, Twitter dan sebagainya telah menghubungkan seisi
dunia. Dengan media sosial seseorang dapat bercakap dengan orang lain di
ujung lain dunia. Berkat media sosial juga, seseorang bisa menemukan
kawan lama, yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.
Penjelasan Ilmiah Tentang Cinta
Cinta adalah sesuatu yang
indah, tetapi juga sesuatu yang kadang terasa sangat irasionil. Jatuh cinta
bisa membuat seseorang berubah segitu rupa, baik perubahan fisik, tingkah
laku atau bahkan mental. Perubahan ini sering dilakukan tanpa sadar,
bahkan kadang tak bisa dinalar dengan akal sehat. Tapi sebenarnya semua itu
terjadi karena sedang terjadi proses kimia di tubuh orang yang sedang jatuh cinta.
Jilbab; Antara Kesadaran dan Kesekedaran
Perempuan merupakan salah satu makhluk Allah yang
diciptakan dengan bentuk tubuh yang indah. Semua dari tubuh perempuan memiliki
nilai keindahan. Keindahan tersebut diciptakan bukan untuk dipamerkan,
melainkan harus dijaga dengan mengenakan pakaian yang tertutup sempurna. Jika
tubuh perempuan dipamerkan dengan tidak mengenakan pakaian yang tertutup
sempurna, maka tubuh perempuan tidak lagi indah, justru akan menjadi
malapetaka.
Alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur [4]
Assalamu'alaikum, kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
read more...
Senin, 21 April 2014
KUMPULAN SHOLAT SUNNAH (3)
I. SHOLAT ISTIKHOROH
Sholat Istikhoroh adalah
sholat yang dikerjakan sebagai wasilah
untuk memohon pilihan terbaik dalam suatu perkara/urusan yang hendak
dikerjakan. Dalam prakteknya, sholat ini hanya disunahkan untuk dilakukan
ketika hendak mengerjakan suatu perkara yang hukumnya mubah ataupun beberapa
perkara sunah ketika terjadi kebingungan untuk memilih manakah yang harus
dikerjakan atau didahulukan dari beberapa kesunahan tersebut.
KUMPULAN SHOLAT SUNNAH (2)
I. SHOLAT AL-'IDAINI
Dari kata 'Idaini, sholat ini
mencakup dua kandungan sholat, sholat 'Idul Fitri (hari raya kecil) dan 'Idul
Adlha (hari raya besar). Masing-masing memiliki hukum sama, sunnah mu'akad
meskipun memiliki keutamaan yang berbeda. Idul 'Adlha lebih utama karena
perintah melakukan langsung dari al-Qur'an:
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
".(Surat
Al-Kautsar: 3)
RAHASIA GUS DUR DAN MBAH MAIMOEN ZUBAIR
Transkip ceramah KH. Marzuqi
Mustamar di PP Darul Muttaqien-Bolong Ngaditirto Selopampang Temanggung 09
Februari 2013
1.
Kulo
tak cerito sekedik, tak sebut mawon, “Gus Dur”. Njenengan setuju sa’karepmu ndak
setuju sa’karepmu.
KUMPULAN SHOLAT SUNNAH (1)
KUMPULAN SHOLAT SUNNAH (1)
I. SHOLAT ROWATIB
Sholat Rowatib adalah sholat
sunah yang dikerjakan mengiringi sholat fardhu (sebelum atau sesudahnya). Jika
dikerjakan sebelumnya dinamakan Sholat Qobliyah, sedang jika dikerjakan
sesudahnya maka dinamakan Sholat Ba'diyyah.
Minggu, 20 April 2014
Al-Isti'dad Liyaumil Ma'ad 1-4 Karangan KH. Zamrodji Al-Mursyid
Assalamu'alaikum,
Kitab Al-Isti'dad Liyaumil Ma'ad adalah karangan beliau KH. Zamrodji Al-Mursyid yang mengandung serangkaian hadis-hadis tentang menjaga hati agar tetap bersih dengan memakai bahasa jawa pegon.
Bagi yang berminat silahkan hubungi kami Syafa'at Mubari nomer telephon:
Kitab Al-Isti'dad Liyaumil Ma'ad adalah karangan beliau KH. Zamrodji Al-Mursyid yang mengandung serangkaian hadis-hadis tentang menjaga hati agar tetap bersih dengan memakai bahasa jawa pegon.
Bagi yang berminat silahkan hubungi kami Syafa'at Mubari nomer telephon:
+6281515647526 / Whatapps 082234168480
Harga kitab hanya Rp. 20.000,- belum termasuk ongkir.
semoga anda yang berminat.
contoh sampul:
Sabtu, 19 April 2014
Ratusan Pemuda Afghanistan Akan Belajar di Ponpes dan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama
Ratusan
pemuda Afganistan menimba ilmu di pondok pesantren dan perguruan tinggi
di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Pemerintah mereka ingin memiliki
kader bangsa yang bukan saja matang dalam menguasai ilmu pengetahuan
akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia, yang selama ini ditanamkan
pada kedua lembaga pendidikan tersebut.
Senin, 14 April 2014
Musibah yang Terindah
ورود
الفاقات أعياد المريدين السالك
“Datangnya musibah dan cobaan adalah hari raya yang indah
bagi orang-orang yang sedang menempuh jalan menuju kepada Allah swt (السالك /المريد).”
Luaskan Cakrawala untuk Meneguhkan Tauhid
أباح لك أن تنظر ما في المكونات وما أذن لك أن تقف مع ذوات المكونات، قل انظروا ماذا في السموات والأرض، فتح لك باب الأفهام ولم يقل انظروا السموات لئلا يدلك على وجود الأجرام
“Allah SWT memperbolehkan untuk melihat sesuatu yang
terkandung dalam alam semesta, namun Dia tidak mengizinkan dirimu berhenti pada
subyeknya saja, “katakanlah: “Lihatlah sesuatu (yang terkandung) di dalam
langit dan bumi”, Allah SWT membukakan pintu pemahaman bagi kamu. Akan tetapi
Dia tidak mengatakan “lihatlah langit” agar tidak mengarahkanmu kepada
keberadaan wujud benda-benda”.
Selasa, 08 April 2014
Alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur 3
Assalamu'alaikum, kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur 3. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
read more...
Senin, 07 April 2014
Mengobati Hati yang Buta
]]العجب كل
العجب ممن يهرب مما لاانفكاك له عنه و يطلب ما لا بقاء له معه (فَإِنَّهَا
لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ.[[
“Keajaiban
yang sungguh mengherankan ialah seseorang yang berlari dari sesuatu yang tidak
mungkin lepas darinya. Dan (kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal
bersama dirinya. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang
buta ialah hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)
Mahalnya Sebuah Hidayah
Lafadz hidayah merupakan salah satu
masdar dari lafadz hadaa yahdii yang bermakna arsada, yakni memberi petunjuk
atau menunjukkan. Kata hidayah bagi seorang muslim merupakan kata yang sangat
popular. Kata hidayah ini pasti dimengerti walaupun dia adalah seorang awam.
Yaitu, sebuah perkataan yang menunjukkan sebuah anugrah Sang Pencipta pada
hamban-Nya.
Goyang Oplosan Bunga-bunga Perzinahan
Terlihat Seksi tidak harus Memperlihatkan Lekuk Tubuh
Menurut penelitian, di otak laki-laki, ketika
melihat lekuk tubuh perempuan yang ramping dan seksi ternyata terjadi semacam
reaksi kimia yang efeknya serupa saat seseorang meminum minuman beralkohol atau
obat-obatan.
Alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur (2)
Assalamu'alaikum, kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
read more...
Cantik; Antara Fisik dan Karakter
Suatu ketika, Nabi pernah ditanya ,”Siapakah
sebaik-baik wanita itu wahai Rasulullah?” kemudian Nabi menjawab, ”Sebaik-baik
wanita adalah yang menyenangkan jika dilihat, taat jika diperintah, serta
tidak menyalahi dirinya dan hartanya.” (HR. Abu Hurairah)
Alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur 1
Assalamu'alaikum,
Kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
read more...
Kini admin akan menyajikan alamat Pondok Pesantren Terlengkap di Jawa Timur. semoga bermanfaat dan menjadikan info yang menyegarkan.
Minggu, 06 April 2014
NABI PUN MENYURUH KITA PACARAN
Seorang muslim yang kesehariannya dituntut dengan beragam ibadah yang rerata
mengandung unsur pemaksaan akan mematrikan kebosanan dan kekenduran semangat.
Karenanya wajar bila pada sebagian waktunya, jiwa itu disegarkan kembali dengan
hal-hal yang menyenangkan, yang tidak lain itu adalah bercengkerama dengan
lawan jenis. Dan makna inilah yang dimaksudkan dengan sakinah atau
tenteram dan tenang. Demikianlah lebih kurang al-Ghazali menjelaskan salah satu
faidah pernikahan.[1]
Inilah 9 Rekomendasi Hasil Konferensi Ulama Internasional
HASIL KONFERESNSI INTERNASIONAL ULAMA DAN CENDIKIAWAN MUSLIM
DI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI’IYAH
SUKOREJO SITUBONDO JAWA TIMUR
SABTU- AHAD, 29-30 MARET 2014 M / 27-28 JUMADIL ULA 1435
DI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI’IYAH
SUKOREJO SITUBONDO JAWA TIMUR
SABTU- AHAD, 29-30 MARET 2014 M / 27-28 JUMADIL ULA 1435
PENDADULUAN
UCAPAN-UCAPAN NIAT
1. Niat
Wudlu
نَوَيْتُ
الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ فَرْضاً لِلّهِ تَعَالَى
2. Niat
Mandi Besar
نَوَيْتُ
الْغُسْلَ لِرَفْعِ الَْحَدَثِ الأَكْبَرِ فَرْضاً لِلّهِ تَعَالَى
3. Niat
Mandi Jum’ah
SHOLAT MEMPERMUDAH SAKARATUL MAUT
1. Syarat – syarat :
a. Dilakukan
pada malam Jum’ah ba’dal Maghrib.
b. Dilakukan
2 ( dua ) roka’at.
SHOLAT SUNNAH ROWATIB
Yang
disebut sholat Rowatib adalah : sholat sunnah Qobliyyah dan sholat
sunnah Ba’diyyah. Penjelasan masing-masing sebagai berikut :
a. Sholat
Qobliyyah adalah : Sholat sunnah yang dilakukan setelah masuk waktu sholat
fardlu dan belum melakukan sholat fardlu tersebut.
SHOLAT TA’NISIL QOBRI DAN SHOLAT TSUBUTUL IMAN
SHOLAT
TA’NISIL QOBRI
1. Syarat :
dilakukan 2 ( dua ) roka’at.
SHOLAT TAUBAT
- Syarat – syarat :
a.
Bisa dilakukan sewaktu-waktu.
b.
Dilakukan 2 ( dua ) roka’at.
PERKEMBANGAN TASYRI‘ ISLAMI PERIODE III
A. Pendahuluan
Pertumbuhan mengalami kemajuan yang sangat pesat.tasyri‘ setelah masa Rasulullah Itu dilalui secara bertahap di setiap periode atau masa tertentu. Dalam setiap periode, pertumbuhan tasyri‘ memiliki karakter dan alur perkembangan yang berbeda-beda yang disebabkan oleh kondisi pada setiap periode yang berbeda pula.
read more...
Pertumbuhan mengalami kemajuan yang sangat pesat.tasyri‘ setelah masa Rasulullah Itu dilalui secara bertahap di setiap periode atau masa tertentu. Dalam setiap periode, pertumbuhan tasyri‘ memiliki karakter dan alur perkembangan yang berbeda-beda yang disebabkan oleh kondisi pada setiap periode yang berbeda pula.
SHOLAT SYUKRIL WUDLU’
1. Syarat – syarat :
a.
Dilakukan setelah selesai melakukan wudlu’.
b.
2 ( dua ) roka’at.
SHALAT-SHALAT SUNAH DENGAN BAHASA PEGON JAWA
صَلاَةُ التَّهَجُّدِ
صَلاَةْ
تَهَجُّدْ إِيْكُوْ غلاَكُوْنِيْ اِغْدَالـمْ وَقْتُ بغِيْ سَأْوُوسَيْ تُورُو
لَنْ سَأْوُوسَيْ صَلاةْ عِشَاءْ سنَاجَانْ صَلاةْ عِشَاءْ كَغْ دَينْ جَمَعْ
تَقْدِيْمْ اِغْدالـمْ وَقْتُ مَغْرِبْ
SHOLAT WITIR
1. Syarat – syarat :
a. Dilakukan
pada waktu malam hari
|
b. Setelah
sholat Isya’ ( biarpun yang dijama’ taqdim )
c. Minimal
1 ( satu ) roka’at, maksimal 11 ( sebelas ) roka’at
d. Setiap
dua roka’at salam
SHOLAT SUNNAH AWWABIN / GHOFLAH
1. Syarat – syarat :
a. Dilakukan
pada waktu malam hari ( antara maghrib dan isya’ )
b. 20
( dua puluh ) roka’at. ( menurut satu pendapat atau qil 6,4 atau 2 roka’at )
SHOLAT DLUHA
1. Syarat – syarat :
a. Dilakukan
pada waktu pagi ( antara jam 06.30 – tengah hari )
b. Minimal
2 ( dua ) roka’at, maksimal 12 ( dua belas ) roka’at, tetapi yang paling utama
dilakukan dengan 8 ( delapan ) roka’at.
SHOLAT HAJAT
A.
Bacaan :
1.
Roka’at pertama membaca surat
Al-kafirun 10 (sepuluh) kali
2.
Roka’at kedua membaca surat
Al-Ikhlas 10 ( sepuluh ) kali
SHOLAT TAHAJJUD
- Syarat – syarat :
a.
Dilakukan pada waktu malam hari ( lebih baik jika dilakukan setelah jam 12.00
istiwa’, tengah malam jam )
b.
Setelah sholat Isya’ ( biarpun yang dijama’ taqdim )
c.
Setelah tidur
SHOLAT TASBIH
1.
Syarat – syarat :
4 ( empat )
roka’at, bisa dilakukan sekali atau dua kali salam
2.
Bacaan :
Sabtu, 05 April 2014
SILSILAH ATH-THARIQAH AL-QADIRIYAH WAN-NAQSYABANDIYAH DI RAUDLATUL ULUM KENCONG
قَالَ
الْشَّيْخُ زَمْرَجِيْ بْنُ الْشَّيْخِ شَيْرَازِيْ :
أَوَّلاً
تَلَقَّفْتُ الْبَيْعَةَ عَنِ الْشَّيْخِ رَمْلِيْ تَمِيْمْ فتِيْرُوْعَنْ جُوْمْبَاعْ ,
ثُمَّ
ثَانِيًا تَلَقَّفْتُ الْبّيْعَةَ وَالإِجَازَةَ مُطْلَقَةً لِلإِجَازَةِ وَالإِرْشَادِ
عَنِ الْشَّيْخِ مُصْلِحْ بْنِ الْشَّيْخِ عَبْدِ الْرَحْمنِ الْمَرَاقِيِّ
Kepemilikan Acara Miss World
DALAM acara sebuah televisi swasta, host, Angelina Sondakh, yang
waktu itu belum lama ikut pergelaran Miss World, dan belum berstatus
anggota DPR (apalagi tahanan KPK), mengajukan pertanyaan kepada Gus Dur.
KH. Ahmad Said Asrori : Masuk Surga itu Perlu Ticket
Al-mukarom Bapak KH. Ahmad Said Asrori |
Puncak
dari acara Akhirussanah Madrasah Kuliyyatul Islamy ( MKI ) ke -6 tahun
2012 adalah dengan diselenggarakannya Pengajian Akbar pada malam harinya
, yaitu hari Ahad tanggal 24 Juni 2012 selepas sholat isya'.Untuk
mengisi acara inti atau mau'idzoh hasanah Madrasah Kuliyyatul Islamy (
MKI ) Jonggrangan-Sleman berkesempatan mengundang beliau
Rabu, 02 April 2014
Video Harlah Agus Tuhfatun Nafi' dan PP Sapu Jagad
Assalamu'alaikum..
Langganan:
Postingan (Atom)